RILISRAKYAT.ID – Ada satu peribahasa bijak yang mengingatkan kita: “Jangan berkuda di dua pelana”.

Sebuah maknanya yang sangat dalam: tidak mungkin seseorang bisa menunggangi dua pelana pada satu kuda, atau menaiki dua kuda berlari ke arah berbeda sekaligus. Posisi itu mustahil membuat kita aman, mustahil membuat kita seimbang, dan yang pasti akan berakhir jatuh tersungkur ke tanah.

Gambaran inilah yang paling tepat untuk sikap hidup banyak orang saat ini. Di persimpangan jalan kehidupan, dunia kerja, organisasi, maupun bermasyarakat, kita sering dihadapkan pada tawaran yang menggoda. Di satu sisi ada jabatan, harta, kemewahan, dan keuntungan duniawi yang terbentang lebar. Namun di sisi lain, ada suara hati, prinsip, dan keyakinan yang kita anut sejak awal.

Banyak orang kemudian tergoda untuk mencoba posisi aman: ingin meraih keuntungan dari sisi sana, namun tetap ingin terlihat benar dan terhormat dari sisi sini. Ia ingin memuaskan hawa nafsunya, tapi juga ingin dipuji orang baik. Ia ingin mengikuti arus yang menguntungkan, tapi juga ingin selamat di jalan kebenaran. Inilah sesungguhnya makna berkuda di dua pelana: berusaha mengangkangi dua arah bertolak belakang, berharap untung dan aman di keduanya, padahal hakikatnya tidak mungkin disatukan.

Berkuda di dua pelana adalah perilaku memecah belah diri sendiri. Kita berusaha meyakinkan akal bahwa kita bisa berkompromi dengan yang salah demi alasan keadaan, demi kebaikan, atau sekadar bertahan hidup. Kita ingin menikmati hasil yang didapat dari jalan yang tidak lurus, namun di saat yang sama kita juga menginginkan ketenangan dan harga diri yang utuh. Padahal, dua hal itu adalah garis yang sejajar dan tidak akan pernah bertemu. Keuntungan yang didapat dengan mengorbankan prinsip, tidak akan pernah sejalan dengan ketenangan hati.

Ada tiga pilar utama yang tidak boleh kita pisahkan, apalagi dipermainkan demi kepentingan sesaat: Keyakinan, Hati Nurani, dan Harga Diri. Ketiga hal ini adalah satu kesatuan utuh yang menjadi jati diri manusia bermartabat, yang tidak boleh dibagi dua atau diletakkan di pelana yang berbeda.

Keyakinan berfungsi sebagai kekang dan arah tujuan. Ia menentukan ke mana kuda kehidupan kita dibawa lari. Jika kekang ini kita kendurkan atau kita ubah arahnya hanya karena ada tawaran uang, jabatan, atau tekanan lingkungan, maka sesungguhnya kita sudah tersesat sejak awal. Keyakinan itu haruslah tetap, lurus, dan teguh, meski badai menghadang atau godaan melimpah di depan mata. Mengubah haluan demi keuntungan sama artinya kita sudah jatuh dari kuda kebenaran, jauh sebelum perjalanan selesai.

Selanjutnya adalah Hati Nurani. Ini adalah penunggang sejati dalam diri kita. Suaranya mungkin lembut dan pelan, namun isinya adalah penilai paling jujur atas setiap langkah yang diambil. Orang yang memilih berkuda di dua pelana, pada dasarnya adalah orang yang sedang menutup telinga dari suara hatinya. Ia membohongi dirinya sendiri dengan berbagai alasan pembenaran, padahal di lubuk terdalam jiwanya, ia tahu bahwa posisi yang diambilnya itu keliru dan tidak seimbang. Hasil apa pun yang diraih dengan cara mengkhianati hati nurani, tidak akan pernah membawa kedamaian, sekaya apa pun harta yang didapat.

Dan yang paling mahal harganya adalah Harga Diri. Ini adalah mahkota yang melekat pada diri setiap manusia, yang tidak boleh kita lepaskan, apalagi kita jual kepada siapa pun. Perlu dipahami dengan baik: harga diri seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan yang disandang, seberapa luas tanah yang dimiliki, atau seberapa tebal uang di saku. Harga diri yang sesungguhnya justru terlihat jelas saat seseorang mampu berkata “TIDAK” pada tawaran yang salah, meskipun tawaran itu terlihat sangat indah dan menguntungkan.

Saat kita memilih berkuda di dua pelana, saat kita mencoba berkompromi dengan ketidakbenaran, di situlah kita sedang menurunkan harga diri kita sendiri. Kita menjadi barang dagangan yang nilainya ditetapkan oleh orang lain, bukan oleh prinsip yang kita pegang. Kita menjadi orang yang tidak punya arah, tidak punya pendirian, dan mudah dibawa ke mana saja angin bertiup.

Banyak orang mengira bahwa bersikap fleksibel, tidak tegas, atau berada di dua sisi adalah kecerdikan, adalah taktik cerdas bertahan hidup di dunia yang keras. Padahal itu adalah tanda awal kehancuran jati diri. Orang yang memiliki pendirian kuat hanya butuh satu pelana, satu arah, dan satu tujuan: jalan yang benar, jalan yang lurus, jalan yang sejalan dengan apa yang diyakini hatinya.

Memang harus diakui, menunggangi satu pelana ke arah kebenaran sering kali terasa lebih berat dan lebih sepi. Mungkin banyak tawaran kemudahan yang harus dilewatkan, banyak peluang duniawi yang harus dilepaskan, dan banyak orang yang tidak memahami jalan yang kita pilih. Namun, ada satu kepastian yang tidak dimiliki oleh mereka yang berkuda di dua pelana: Ketenangan dan Keamanan Langkah.

Langkah orang yang berpegang pada kebenaran itu pasti, pijakannya kokoh, dan tidurnya nyenyak tanpa beban. Ia berjalan tegak di mana pun ia berada, karena tidak ada rahasia yang ditutup-tutupi dan tidak ada harga diri yang diperjualbelikan.

Sebagai penutup, mari kita pegang teguh pesan luhur itu: Jangan berkuda di dua pelana. Jangan pernah memisahkan hati dan harga diri. Biarkan keduanya berjalan beriringan dengan keyakinan yang kita anut. Pilihlah satu jalan yang lurus, kendalikan hidupmu dengan satu prinsip yang kokoh, dan jangan pernah mencoba mengangkangi dua arah berbeda. Karena pada akhirnya, hanya orang yang setia pada satu kebenaran lah yang akan tetap berdiri tegak, kokoh, dan dihormati, meski waktu terus berganti dan dunia berputar.

Teguhlah pada prinsip, karena ketenangan hati dan harga diri adalah kekayaan yang nilainya jauh melampaui segala harta di dunia.(*)