(Merespons Pelantikan Direktur Pendidikan IMMIM Puteri Minasate’ne, Pangkep)
Dari Bumi Fagogoru, Halmahera Tengah, kabupaten yang terletak jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, saya mencoba meneropong wajah Indonesia 19 tahun ke depan. Saat cita-cita Indonesia Emas 2045 tiba, apakah itu akan menjadi kenyataan atau sekadar angan-angan?
Jarak geografis mungkin memisahkan kami dari pusat pemerintahan. Namun asa akan kejayaan Indonesia tidak pernah mengenal jarak maupun batas wilayah. Saya meyakini bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, kemajuan teknologi, atau megahnya pembangunan fisik. Masa depan bangsa justru ditentukan oleh kualitas manusianya.
Di tengah perbincangan soal Indonesia Emas 2045, kita sering membahas bonus demografi, transformasi digital, kecerdasan buatan, hingga daya saing ekonomi. Namun satu pertanyaan mendasar jarang diajukan: siapa yang akan memimpin Indonesia masa depan?
Pertanyaan ini bukan sekadar soal siapa nanti menjadi presiden, menteri, gubernur, direktur, atau komisaris perusahaan. Lebih dari itu, pertanyaannya adalah: bagaimanakah kualitas manusia Indonesia yang akan membentuk wajah bangsa ini? Di sinilah pendidikan perempuan menjadi sangat menentukan.
Investasi terbaik bagi masa depan Indonesia adalah memastikan setiap perempuan memiliki akses setara terhadap pendidikan. Sebab ketika perempuan maju, keluarga menjadi kuat, masyarakat menjadi sejahtera, dan Indonesia melangkah menuju masa depan yang lebih gemilang.
Perempuan adalah pendidik pertama dalam kehidupan seorang anak. Dari rahim perempuan lahir generasi. Dari tangan perempuan tumbuh karakter. Dari keteladanan perempuan terbentuk budaya keluarga. Maka, ketika kita mendidik seorang perempuan, sesungguhnya kita sedang membangun dan menyalakan pelita bagi masa depan bangsa. Sebab perempuan yang berilmu akan melahirkan generasi berkualitas, generasi yang membawa bangsa ini menuju kemakmuran, kemajuan, dan keberkahan.
Sayangnya, pendidikan perempuan kerap masih dipahami sebatas memberi kesempatan belajar. Padahal tantangan abad ke-21 menuntut lebih. Perempuan Indonesia harus dipersiapkan menjadi pribadi yang beriman, berilmu, percaya diri, mampu memimpin, menguasai teknologi, memiliki daya saing global, dan tetap berpijak pada nilai luhur bangsa. Karena itu, paradigma pendidikan perempuan perlu berubah.
Tujuan pendidikan bukan sekadar meluluskan orang dengan ijazah, melainkan melahirkan perempuan yang mengenali potensi dirinya, mengembangkan bakatnya, dan berani mengambil peran dalam masyarakat. Inilah yang saya sebut pendidikan berbasis talenta.
Setiap anak perempuan memiliki potensi unik. Ada yang berpotensi menjadi ilmuwan, pendidik, dokter, diplomat, pengusaha, ulama, peneliti, seniman, atau pemimpin masyarakat. Pendidikan yang baik adalah yang membantu mereka menemukan panggilan hidupnya, dan pesantren memiliki peluang besar menjalankan misi ini.
Selama ini pesantren telah sukses membangun karakter, kedisiplinan, dan spiritualitas. Nilai-nilai itu adalah modal utama membentuk pemimpin berintegritas. Namun tidak berhenti di situ, tantangan berikutnya adalah memperkaya pendidikan dengan pengembangan kepemimpinan, literasi digital, kemampuan bahasa asing, kreativitas, inovasi, dan kewirausahaan.
Dengan begitu, pesantren tidak hanya melahirkan muslimah yang salehah, melainkan juga muslimah yang mampu memimpin perubahan. Kita butuh lebih banyak perempuan yang berbicara di forum internasional tanpa kehilangan identitas keislamannya, perempuan yang membangun usaha, memimpin lembaga, mengembangkan ilmu, sekaligus menjadi teladan sosial. Perempuan seperti itu tidak lahir kebetulan, mereka dibentuk oleh sistem pendidikan yang memiliki visi jauh ke depan.
Dalam pandangan inilah, mendengar pelantikan pimpinan baru di Pondok Pesantren Modern IMMIM Puteri, saya makin yakin peran perempuan akan semakin menempati posisi strategis di Indonesia. Langkah IMMIM Puteri Minasatene, Pangkep, yang kini memperkuat arah pengembangannya sebagai ruang tumbuh talenta, kepemimpinan, dan kemandirian muslimah, adalah bukti nyata bahwa pesantren menjadi pilar penting pembangunan sumber daya manusia.
Namun keberhasilan satu lembaga saja tak cukup. Gerakan memajukan perempuan harus menjadi gerakan nasional. Pemerintah, pesantren, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, alumni, dan masyarakat harus berjalan bersama. Investasi terbesar bangsa bukan membangun jalan atau pelabuhan semata, melainkan membangun manusia yang akan mengelola semuanya.
Indonesia Emas 2045 tak tercapai hanya dengan kemajuan teknologi. Ia butuh manusia berintegritas, berjiwa pemimpin, cerdas, dan berempati. Dan semua itu bermula dari pendidikan.
Di pesantren, perempuan belajar bahwa ilmu bukan sekadar dibawa pulang, melainkan dihayati dalam keseharian. Mereka tumbuh mandiri, penuh kasih, tak hanya menguasai ilmu agama, tapi juga mengenal diri sendiri, menguatkan hati, dan berdiri tegak dalam kesederhanaan. Di pesantren lahirlah perempuan yang lembut sikapnya, teduh tuturnya, dan kokoh menghadapi ujian.
Maka jika kita sungguh ingin Indonesia maju, jangan pernah ragu berinvestasi pada pendidikan perempuan. Karena perempuan yang terdidik tak hanya mengubah hidupnya sendiri, ia mengubah keluarganya, mengubah masyarakatnya, dan pada akhirnya mengubah arah perjalanan bangsanya.
Masa depan Indonesia tak hanya dibangun di ruang rapat atau pusat kekuasaan. Ia dibangun setiap hari di ruang kelas, di asrama pesantren, dan di hati para perempuan muda yang hari ini belajar menjadi pemimpin esok hari. Masa depan Indonesia tak hanya dibangun tangan yang kuat, tapi juga hati yang berakhlak. Dan hati itu tumbuh dari perempuan-perempuan terdidik yang ditempa di pesantren.






