RILIS RAKYAT.ID–Dalam dunia pendidikan tinggi, seorang dosen bukan sekadar penyampai teori. Terutama di bidang terapan seperti bisnis, peran dosen dituntut lebih dari sekadar menjelaskan konsep. Ia seharusnya menjadi jembatan antara dunia akademik dan dunia praktik. Dosen bisnis idealnya tidak hanya mengajarkan teori bisnis, tetapi juga menunjukkan bagaimana teori tersebut bekerja di lapangan.

Teori Saja Tak Cukup
Mahasiswa sering diajarkan tentang strategi pemasaran, analisis SWOT, atau manajemen keuangan. Tapi tanpa pengalaman nyata di baliknya, teori-teori tersebut terasa abstrak dan jauh dari konteks kehidupan. Di sinilah pentingnya peran seorang dosen bisnis yang juga seorang pelaku bisnis. Dengan menjalankan usaha sendiri—baik skala kecil, menengah, maupun besar—dosen dapat memberikan contoh nyata penerapan teori dalam dunia usaha.

Hal ini selaras dengan pendekatan experiential learning yang menekankan pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman langsung. David A. Kolb (1984) menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih efektif bila individu terlibat aktif dalam proses tersebut, bukan sekadar menjadi pendengar pasif. Maka, dosen yang terjun langsung ke dunia bisnis akan lebih mampu memberikan pembelajaran yang kontekstual dan relevan.

Mengapa Dosen Bisnis Perlu Berbisnis?
Meningkatkan Kredibilitas dan Kepercayaan Mahasiswa, Mahasiswa akan lebih percaya kepada dosen yang bisa menunjukkan bukti nyata dari apa yang diajarkannya serta Kredibilitas ini tidak hanya membangun kepercayaan, tetapi juga membentuk iklim pembelajaran yang lebih interaktif dan terbuka.

Menjadi Role Model Kewirausahaan
Indonesia membutuhkan lebih banyak wirausaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Seorang dosen bisnis yang juga wirausahawan bisa menjadi teladan inspiratif bagi mahasiswa—bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga menunjukkan keberanian mengambil risiko, inovasi, dan daya juang.

Menyediakan laboratorium nyata bagi Mahasiswa. Bisnis yang dijalankan dosen bisa menjadi arena pembelajaran langsung bagi mahasiswa: magang, riset pasar, analisis bisnis, bahkan kolaborasi dalam proyek riil. Ini akan sangat memperkaya proses belajar.

Memperkuat Kolaborasi Akademik dan Industri. Ketika dosen aktif berbisnis, ia akan lebih memahami dinamika pasar dan industri. Hal ini mendorong penyusunan kurikulum yang lebih adaptif dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Menjaga Etika dan Profesionalisme. Meski demikian, penting bagi dosen untuk menjaga integritas akademik. Aktivitas bisnis tidak boleh mengganggu kewajiban utama sebagai pendidik dan peneliti. Konflik kepentingan harus dihindari, misalnya dengan tidak menjadikan mahasiswa sebagai target pasar usaha pribadi secara langsung.

Lembaga pendidikan juga perlu membuat regulasi yang jelas, agar dosen yang ingin berwirausaha tetap berada dalam koridor etika dan profesionalisme. Dengan pengawasan dan dukungan yang tepat, praktik ini akan menjadi sinergi yang saling menguatkan, bukan sebaliknya.

Menjadi dosen bisnis tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan teoretis. Dunia bisnis bergerak cepat dan dinamis. Agar pembelajaran tetap relevan, dosen perlu menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Maka, dosen bisnis yang juga menjadi pelaku bisnis bukan hanya akan memperkaya pengajaran, tetapi juga memperkuat kontribusi nyata pendidikan tinggi dalam mencetak generasi wirausaha yang tangguh dan adaptif.

Referensi:
Kolb, D. A. (1984). Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

Drucker, P. F. (1985). Innovation and Entrepreneurship: Practice and Principles. Harper & Row.

Permendikbud No. 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

World Bank (2021). Indonesia Economic Prospects: Boosting the Recovery.

Mulyana, D. (2019). “Mengajar yang Menginspirasi.” Kompas.id.