Rilisrakyat.id, Opini– Seiring dengan berkembangnya dunia globalisasi sekarang ini, bangsa Indonesia dikenal sebagai negeri nusantara yang kaya akan sumber daya alamnya.
Begitu besar anugerah yang diberikan kepada negara Indonesia. Bukan dari sumber daya alamnya, tetapi Indonesia yang beriklim tropis ini berada pada wilayah yang sangat strategis.
Indonesia berada di garis khatulistiwa. Diapit oleh dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia.
Indonesia juga memiliki dua samudera yang sangat luas, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Tak mengherankan jika Indonesia dengan sebutan Gema Ri Palo Jinawe ini, memiliki beragam budaya dan kearifan lokal yang sangat beragam.
Selain itu, dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dari aspek pendidikan. Tentunya, tak terlepas dan erat kaitannya dengan dunia modern sekarang.
Namun, yang terjadi sekarang justru berbalik 180 derajat. Walaupun sudah 78 tahun Indonesia merdeka, tapi apa yang sudah kita wujudkan sebagai rakyat Indonesia kepada negara ini. Hanya setiap tahunnya, yang hanya terdengar itu adalah ikrar tentang merdeka… merdeka… dan merdeka…!
Memang kedengarannya didasari semangat nasionalisme. Tetapi dibalik itu semua, Indonesia masih dibelenggu oleh zionis penjajahan.
Kembali bercermin pada arsip nasional tanggal 17 Agustus 1945, ketika kaum pemuda pada saat itu mempersatukan nusantara dari Sabang sampai Merauke.
Tujuannya, untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Tak disangka dan tak terduga, Indonesia mampu melepaskan segala belenggu penjajahan yang didalangi oleh Jepang dan Belanda.
Namun sebaliknya, setelah pengibaran bendera merah putih, negeri ini masih terus dibayang-bayangi oleh kedatangan zionis penjajahan terbaru.
Entah itu dari zaman orde lama, orde baru, reformasi, hingga zaman globalisasi sekarang ini, Indonesia belum lepas dan bangkit dari keterpurukan.
Dalam konteks realita sekarang, banyak yang bergeser dari peradaban Indonesia ini. Sebagian orang mengatakan bahwa Indonesia bukan lagi diserang secara fisik melalui peperangan, tetapi dunia Barat telah menanamkan pengaruhnya kepada Indonesia berupa perang pemikiran atau sosial media.
Sungguh ironis jika melihat kondisi Indonesia sekarang ini berada pada kancah permasalahan dan konflik. Indonesia masih gagal menata sistem kenegaraan yang dianutnya.
Akibat dari bergesernya nilai-nilai budaya dan kearifan lokal membuat Indonesia lupa akan jati dirinya sebagai bangsa. Banyak yang hilang dari negeri ini karena dicaplok dan dikuasai oleh zaman modern yang semakin melang-lang buana ini.
Salah satunya adalah sistem yang dianut bangsa Indonesia. Bukankah Indonesia memiliki pedoman berupa Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.? Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 tersebut merupakan pegangan yang erat sebagai simbol kuat dalam persatuan dan kesatuan bangsa.
Namun, realita sekarang telah mengikis sedikit demi sedikit sendi-sendi kehidupan yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa.
Mereka rela berkorban dan mengabdi kepada tanah air ini. Sudah sepatutnya, kita sebagai generasi pelanjut turut bangga atas jasa pahlawan.
Di satu sisi, bangsa Indonesia sangat menjunjung tinggi yang namanya pendidikan. Namun sebaliknya, persoalan pendidikan di Indonesia masih dipertanyakan peranannya.
Beberapa tahun sebelumnya, seluruh provinsi di Indonesia telah mengadakan Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) yang diadakan pada pertengahan bulan April 2013.
Sedangkan pada tingkat Sekolah Dasar (SD), akan digelar sekitar awal bulan Mei 2013. Ujian Nasional yang diadakan tahun 2013 tersebut ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Ujian Nasional tingkat SMA dan SLTP 2013 tidak berjalan dengan mulus. Pelaksanaannya sangat carut marut.
Beberapa provinsi terpaksa menunda pelaksanaan Ujian Nasional akibat terhadang sekaligus terhalang masalah pengepakan lembar soal.
Penundaan ini mengakibatkan siswa-siswi peserta UN mengalami drop mental yang drastis. Bukan hanya paket soal yang berbeda, tetapi kendala percetakan yang sangat amburadul.
Bahkan, pendistribusian ke berbagai provinsi, kabupaten, kecamatan, maupun desa-desa mengalami keterlambatan.
Di sisi lain, bangsa Indonesia memiliki potensi dari berbagai keanekaragaman yang sangat luar biasa. Antara wilayah satu dengan wilayah yang lainnya, memiliki ciri khas tersendiri.
Bukan hanya rumah adat, tari-tarian, pakaian adat, maupun kesenian tradisional yang sudah termasuk dalam budaya dan kearifan lokal. Salah satunya juga termasuk dalam kekayaan sumber daya alam.
Indonesia memiliki flora dan fauna melalui persebaran jenis tumbuh-tumbuhan dan persebaran satwa. Indonesia kaya akan bahan bakar minyak, batu bara, dan segala mineral kandungan bumi.
Fakta juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tingkat pembangunan dari sisi ekonomi dalam mengelola keuangan negara. Selain itu, Indonesia terkenal dari sisi budidaya pertanian.
Hampir sebagian besar wilayah Indonesia, kaya akan hasil-hasil dan produksi pertanian. Tetapi dibalik itu semua, Indonesia masih sebagian besar mengelola kekayaan alam tersebut. Hasilnya diserahkan sepenuhnya ke pihak asing.
Sungguh ironis yang sangat memprihatikan milik negara tapi dikuasai oleh penjajah.
Itulah bukti manajemen pembangunan yang tidak sistematik. Sistem menjadi bagian dari masalah itu sendiri.
Sebagai rakyat Indonesia, tentunya punya kontribusi besar terhadap pendidikan, budaya, dan kearifan lokal. Untuk mewujudkannya, tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Yang harus kita lakukan adalah senantiasa bercermin dari napak tilas sejarah. Nilai-nilai sejarahlah yang membawa pencerahan untuk disampaikan untuk disampaikan kepada generasi penerus bangsa Indonesia kedepan.
Sejarah telah mengukir banyak karya bukan hanya dipersembahkan kepada Indonesia tetapi di seluruh dunia. Untuk mewujudkannya, butuh tekad dan proses.
Oleh : Muh Ilham Suardi
Alumni Unhas Makassar Tahun 2014






