Rilis Rakyat.Id, Jakarta-– Penampilan boleh berbeda, tetapi kompetensi dan profesionalitas tak semestinya diukur hanya dari apa yang terlihat. Hal itu tergambar dari sosok Dr. (c). dr. Ni Putu Grace A. Lande, MARS, MH, dokter yang belakangan menjadi sorotan di media sosial karena penampilannya yang memiliki tato.

​Sosok dokter tersebut mencuri perhatian setelah sejumlah unggahan di media sosial menampilkan dirinya dengan gaya yang berbeda dari citra dokter yang selama ini kerap dibayangkan masyarakat, sebagaimana dilansir dari NusaBali.com.

​Fenomena ini turut memantik tanggapan dari Ketua Perhimpunan Profesional Kesehatan Indonesia (PPKI), Dr. dr. Hendra Setiawan, Sp.B. Ia menegaskan bahwa kualitas pelayanan medis dan keselamatan pasien ditentukan oleh keahlian klinis serta etika profesi, bukan oleh ekspresi seni personal seperti tato.

​”Tato adalah ranah privasi individu yang tidak berkaitan langsung dengan kemampuan diagnostik maupun integritas seorang tenaga medis saat melayani pasien,” ujar Hendra di Jakarta, Sabtu (12/9/2026).

​Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa sebagian masyarakat masih memegang pandangan konvensional terhadap penampilan tenaga kesehatan. Perbedaan persepsi antargenerasi ini dinilai sebagai bagian dari proses adaptasi sosial di fasilitas pelayanan publik.

​Sementara itu, pengamat sosiologi perkotaan Universitas Indonesia, Retno Wulandari, M.Si, melihat perbincangan ini sebagai cerminan transisi nilai di ruang publik modern. Menurutnya, standar profesionalisme perlahan-lahan bergeser dari atribut formal yang kaku menuju substansi kinerja dan akuntabilitas kerja.

​”Ketika rekam jejak akademik dan kompetensi seseorang sudah teruji, atribut estetika seperti tato perlahan dipahami sebagai bagian dari identitas personal, bukan indikator penurunan moral atau kualitas kerja,” jelas Retno.

​Diskusi yang bergulir dari kisah viral dr. Ni Putu Grace ini diharapkan mampu mendorong lingkungan kerja formal agar lebih objektif dalam menilai profesionalisme, di mana integritas, pendidikan, dan hasil kerja menjadi tolok ukur utama dibandingkan penampilan fisik semata.(*)