RILIS RAKYAT.ID — Peran Kecerdasan emosional  merupakan  peranan  sangat berpengaruh besar terhadap  keberhasilan pesta demokrasi 2024. Kita akan menghadapi begitu banyak tantangan dan hambatan dalam menjalankan pesta demokrasi yang berkeadilan dan dengan berbagai macam karakter yang akan kita hadapi.

Dalam Kaitan ini, kita akan dihadapkan problematika yang bisa membuat perencanaan bisa kacau. Namun Pribadi yang tangguh dan punya komitmen di barengi tata kelola emosi dalam diri tertata hal ini bisa terhindar dari masalah.

Inilah yang di sebut Kecerdasan Emosional. Muncul konsep kecerdasan emosional (EQ) sebagai cara untuk menggambarkan seperangkat keterampilan berpikir. Intinya bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup dalam peran kepemiluan ini.

Biasanya, Intelligent Quotient (IQ) dijadikan sebagai tolak ukur kecerdasan dan kesuksesan seseorang. Faktanya, tes IQ saja tidak cukup untuk menggambarkan hal tersebut.

Oleh karena itu, para peneliti memperluas definisi kecerdasan untuk memasukkan seperangkat keterampilan yang lebih luas, salah satu hasilnya adalah emotional intelligence atau kecerdasan emosional.

Tahukah Anda? Kecerdasan emosi memiliki peran dan pengaruh yang tinggi dalam dunia pekerjaan. Konsep emotional intelligence pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Peter Salovey dan John Mayer di sebuah artikel pada tahun 1990 yang kemudian populer lewat buku yang ditulis oleh Daniel Goleman Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ.

Kecerdasan emosional adalah Emotional intelligence merupakan kemampuan yang cukup diperhitungkan di dunia pekerjaan agar setiap individu dapat memiliki dan memberikan hasil kerja yang berkualitas.

Sederhananya, baik atau tidaknya pekerjaan yang Anda lakukan secara tidak langsung dipengaruhi oleh kualitas emotional intelligence yang Anda miliki. Mari kenali lebih jauh pemahaman tentang emotional intelligence dan bagaimana cara meningkatkannya!

Apa yang Dimaksud Emotional Intelligence?
Emotional intelligence adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan dan memahami emosi (baik emosi orang lain maupun emosi diri sendiri) dengan tujuan meningkatkan kesehatan fisik dan mental.

Seseorang dengan emotional intelligence yang baik mampu mengontrol emosi saat marah, peka terhadap perasaan orang lain, dsb.

Dalam keberhasilan kerja, kecerdasan intelektual hanya menyumbang 4%. Kemampuan akademik bawaan, nilai tes, dan kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa memprediksi seberapa baik kinerja atau kesuksesan yang akan dicapai seseorang. Sebaliknya, kecakapan khusus seperti empati, disiplin, dan inisiatif, dapat memengaruhi keberhasilan kerja.

Kecerdasan emosional menentukan seberapa baik seseorang dalam menggunakan keterampilan yang dimiliki, termasuk keterampilan intelektual.

Sementara itu, kecerdasan emosional menurut Goleman adalah kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

Dalam Kutipan Buku berjudul “Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ” Oleh Goleman juga menyebutkan ada 5 indikator kecerdasan emosional, Di antaranya

1. Self-awareness: Menyadari perasaan atau keadaan yang sedang orang lain rasakan dan pengaruhnya terhadap orang lain.

2. Self-regulation: Menggunakan kemampuan emosional untuk mengatur emosi yang akan memunculkan reaksi atau perilaku tertentu.

3. Internal motivation: Mengambil keputusan sebagai bentuk optimisme, rasa penasaran, dan keinginan untuk mencapai sesuatu.

4. Empathy: Memahami emosi orang lain dan menggunakan kemampuan ini untuk merespon orang lain berdasarkan tingkat emosional.

5. Social skills: Menerapkan kemampuan emosional untuk membangun hubungan sosial yang kuat dengan sekitar.

Perlu Anda ketahui bahwa setiap orang mempunyai kemampuan emosional yang berbeda. Beberapa orang mempunyai emotional intelligence cukup baik, sementara ada yang menghadapi kesulitan untuk membangun emotional intelligence yang dengan seimbang.

Bahkan, sebuah penelitian mengemukakan bahwa, jika dibandingkan dengan kemampuan akademik emotional intelligence yang tinggi akan lebih berdampak pada ketahanan kesehatan fisik dan mental serta dapat memengaruhi kesuksesan di dunia pekerjaan.

Jika di sandingkan dalam Pengelolaan Mananejem rekrutment penyelenggaraan Pesta Demokrasi pada pemilihan P2ilkada 2024.

Setidaknya terdapat berbagai kemampuan yang dibutuhkan dalam menyukseskan setiap individu dapat memberikan kinerja yang berkualitas yang tidak terlepas dari Kerjasama yang baik sering kali kita dengar koleketif Kolegial.

Peran Kecerdasan Emosional dalam Dunia Kerja maupun pada tataran organisasi tertentu setiap Sumber Daya Manusia mampu kendalikan diri dari berbagai persoalan dan dinamika yang akan terjadi.

Emotional intelligence penting untuk dimiliki oleh setiap personil Panitia Pemungutan Suara ( PPS) agar visi misi dapat tercapai dengan baik. Peran kecerdasan emosional dalam dunia kepanitian Penyelenggaraan Pesta demokratis minimal memiliki pengaruh positif.

1. Membentuk tim yang kolaboratif
Kolaborasi mendukung capaian kinerja yang baik sebagai penyelenggara. Ini lebih mudah dilakukan jika anggota tim saling berempati, saling percaya, dan memahami emosi satu sama lain. Anggota tim yang cerdas emosional akan terbuka dan jujur dalam hubungan interpersonal.

Mereka akan lebih terbuka untuk meminta bantuan, mengakui kesalahan, berbagi kesulitan, dan menerima perbedaan perspektif yang unik dari masing-masing individu. Dari sini, pengambilan keputusan, penyelesaian tugas, koordinasi, dan kerja sama tim dapat dilakukan secara efisien.

2. SDM yang inovatif
Dinamika kerja yang berubah dengan cepat menuntut siapa saja untuk mampu beradaptasi dan menghadapi perubahan tak terduga. Personil yang cerdas secara emosional memungkinkan mereka memiliki fleksibilitas yang tinggi dan mampu beradaptasi dengan baik.

Ketika menghadapi perubahan, mereka akan bersikap proaktif daripada reaktif. Personik yang cerdas emosional berani mengambil risiko, tidak takut melakukan kesalahan, dan mampu mengenali solusi kreatif (inovatif).

3. Tidak rentan terkena stres
American Psychological Association menjelaskan bahwa 65% pekerja mengaku pekerjaan adalah sumber stres utama mereka. Hal ini disebabkan karena beban kerja yang berat, jam kerja yang panjang, serta lingkungan kerja yang tidak sehat.

Untuk itu, selain kecerdasan intelektual, kita juga harus memiliki kecerdasan emosional. Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi, dan mengatur keadaan jiwa.

Kecerdasan emosional membantu seseorang untuk bisa mengatur keadaan jiwa dan menghadapi tekanan kerja. Setiap organisasi pasti ingin anggotanya untuk bisa memberikan kinerja yang baik, memiliki motivasi diri yang tinggi, empati, dan inisiatif.

Hal-hal tersebut merupakan keterampilan kecerdasan emosional. Kabar baiknya, kecerdasan emosional adalah keterampilan yang bisa dilatih.

4. Komunikasi dan interaksi yang semakin efektif
Kecerdasan emosional memungkinkan seseorang untuk mengontrol dan mengekspresikan emosi mereka dengan baik, serta memahami dan menanggapi emosi orang lain.

Hal ini akan sangat membantu manusia untuk berkomunikasi secara efektif dengan rekan kerja mereka.

5. Pengambilan keputusan yang lebih baik
Seseorang dengan kecerdasan emosi yang baik akan cenderung membuat keputusan yang rasional dan obyektif. Pasalnya, mereka akan berpikir dengan lebih hati-hati dan baru mengambil keputusan di saat kondisi emosi sudah stabil.

Di Dunia Kepemiluan selain integritas, Keterbukaan, Upaya harus di jaga adalah bagaimana kemudian, menjiwa, memahami kondisi- kondisi yang relevan termasuk dalam proses pengendalian diri terhadap intekraksi sosial dan hubungan masyarakat setempat utnuk terus di dekatkan dalam penataan hierarki pendekatan emosional.

Namun Fakta, ketika melihat di berbagai daerah jika di rumuskan masih rendahnya sikap profesionalisme yang menimbulkan

1. Tidak mampu mengendalikan emosi saat berinteraksi dengan rekan kerja atau pelayanan.

2. Sulit dalam mengambil keputusan yang baik karena dipengaruhi oleh perasaan negatif.

3. Mudah marah atau frustrasi saat menghadapi masalah di tempat kerja.

4. Kesusahan untuk bekerja sama dengan rekan kerja karena tidak mampu mengelola perasaan.

5. Menyalahkan orang lain atau situasi saat terjadi masalah di tempat kerja.

6. Sulit dalam mengejar target dealine waktu yang ditentukan karena mudah merasa putus asa atau tidak percaya diri.

7. Mudah merasa cemas atau stres saat menghadapi situasi yang tidak familiar.

8. Enggan menerima kritik atau masukan dari rekan kerja atau atasan.

9. Sering merasa tidak puas atau tidak bahagia dengan pekerjaan yang dilakukan.

Dengan ini, setiap individu akan belajar untuk membagi tanggung jawab, mengatasi konflik, berdiskusi, dan memahami perspektif orang lain. Hal ini bisa meningkatkan empati dan juga keterampilan sosial.(*)