RILIS RAKYAT.ID– Sebelum lautan menelan daratan dan sebelum nama Palopo terukirdi peta, ada sebuah zaman yang hanya hidup dalam gema lagu dan bisikan angin. Empat ratus abad yang lalu, saat dunia diselimuti dingin yang berbeda, Teluk Bone bukanlahlautan, melainkan sebuah mangkuk kehidupan raksasa: Lembah Wara Kuno.

Lembah itu adalah permadani hijau yang dijahit oleh puluhan urat sungai, membawa lumpur subur dari pegunungan yang memeluknya di barat dan timur. Puncak-puncak gunung itu, yang kelak akan menjadi benteng terakhir melawan naiknya air, saat itu adalah para penjaga yang hening. Di hutan-hutan lebatnya, kawanan gajah kerdil Stegodon meruntuhkan semak belukar, dan di padang rumputnya, anoa merumput dalam damai.

Di lembah inilah, di atas delta yang subur dan perairan yang tenang, berdiri sebuah peradaban. Dan peradaban itu ditopang oleh pilar-pilar klannya: Di pesisir yang menghadap lautan lepas, berkuasalah Klan Pelaut. Merekalah para penakluk cakrawala. Dengan menunggangi Lepa-Lepa Raksasa—katamaran bercadik ganda yang lambungnya sekuat karang—mereka menantang badai. Para navigatornya, para Anak Anging, tidak butuh kompas. Mereka membaca Kutika Bintoeng, peta bintang di langit malam, menggunakan Rasi Bintang Biduk sebagai penunjuk jalan. Kemuliaan bagi mereka bukanlah emas, melainkan artefak aneh dari negeri tak dikenal yang mereka bawa pulang. Mereka adalah para pahlawan, para bangsawan, para pemimpi.

Di belakang mereka, di bengkel-bengkel yang beraroma kayu dan damar, bekerja tanpa henti Klan Pengrajin. Merekalah jantung peradaban yang tersembunyi. Tangan-tangan terampil mereka yang mengubah kayu bitti menjadi lambung perahu, serat rotan menjadi ikatan yang lebih kuat dari besi, dan hanya mereka yang tahu rahasia menempa “Batu Langit”—logam meteorit yang kaya nikel—menjadi bilah Ulu Pakka yang berkilauan, cikal bakal dari semua bilah pusaka. Mereka membangun panggung, tapi sebuah sumpah kuno melarang mereka menari di atasnya.

Lebih jauh ke pedalaman, di sepanjang tepian sungai yang subur, hiduplah Klan Petani. Merekalah akar dari peradaban ini. Dengan kesabaran yang diwariskan dari tanah itu sendiri, mereka menanam padi, talas, dan memanen sagu dari hutan rawa. Dunia mereka mungkin tidak seluas lautan, tapi sedalam tanah yang mereka olah.

Di dataran tinggi yang berbatu, di gua-gua dan lereng terjal, hiduplah Klan Pegunungan. Orang-orang Puncak Batu ini adalah para penyintas. Mereka adalah Klan Pemburu yang pragmatis. Mereka turun ke lembah hanya untuk barter, menukar kulit binatang dan bongkahan obsidian dengan garam dari orang pesisir. Mereka memandang aturan kasta dan obsesi akan kemuliaan orang lembah dengan cemoohan sunyi. Bagi mereka, hanya ada satu hukum: hukum alam yang jujur dan brutal.

Dan menopang kemegahan kota bandar Wanuwa To-Rilau’, hiduplah Klan Perkasa. Mereka bukanlah budak, melainkan otot dan tulang punggung peradaban. Merekalah para pendayung yang napasnya lebih panjang dari harapan, para pengangkut yang memikul gading dan balok kayu di atas bahu mereka yang bidang. Perkasa dalam tubuh, namun terikat dalam takdir untuk melayani.

Semua klan ini hidup dalam tatanan yang rumit, sebuah hierarki yang dijaga ketat oleh tradisi dan restu dari para Bissu, para pembimbing spiritual yang berada di luar kasta. Para Bissu adalah penenun gema, penjaga sumpah-sumpah lama.

Setiap klan memiliki tempatnya, setiap orang memiliki takdirnya. Seorang anak pengrajin akan menjadi pengrajin. Seorang anak pelaut akan menjadi pelaut. Hukum ini sekuat kayu ulin, sekuno gunung-gunung itu sendiri.

Namun, di zaman ini, di antara generasi yang gelisah, lahir seorang anak dari Klan Pengrajin dengan jiwa seorang pelaut. Seorang anak yang tangannya ditakdirkan untuk membangun perahu, tapi hatinya bersumpah untuk menakhodainya.Namanya Lagos, dan di dalam dirinya, retakan pertama dari dunia yang tampak sempurna ini mulai terbentuk. (1-bersambung)

Penulis Novel : Samsudar Syam

Sumber:https://www.facebook.com/share/p/19C9LmFRUj/