Napas La Gose tersengal, bukan karena beban seikat rotan yang menekan pundaknya, tapi karena pemandangan yang terhampar di bawahnya. Dari bibir hutan di lereng perbukitan, matanya bisa memeluk keseluruhan dunianya.
Cerita lanjutan kedua 4000 tahun lalu sebelum Masehi Palopo, dalam novelnya menguraikan cerita tentang sumpah di lembah wara Di bawah sana. Lembah Wara Kuno terbentang laksana permadani hijau zamrud, dialiri puluhan anak sungai yang berkilauan sebelum menyatu di kota bandar terbesar zaman ini, Wanua To-Rilau’. Di pelabuhannya, tiang-tiang layar dari perahu Lepa-Lepa Raksasa menjulang seperti hutan tanpa daun.
Setiap kali melihatnya, perasaan yang sama selalu membakar dada Lagos—panggilan namanya yang lebih singkat dan liar.
Bukan kekaguman, melainkan iri hati yang pekat. Hatinya panas melihat para pelaut dari Kasta Laut kembali dengan kemuliaan, sementara keluarganya, dari Kasta Pengrajin, terikat oleh sumpah raja kuno yang melarang mereka melaut, atau mereka akan ditelan lautan. Sebuah takdir yang tak pernah ia percayai.
Tatapannya ke arah bandar penuh kebencian. Dia bersumpah dalam hati, suatu saat dia akan menaklukkan lautan dan kembali dengan membawa bukti peradaban dari tempat terjauh di bumi, sebuah syarat untuk diakui sebagai pelaut ulung.
Tanpa sadar, jemarinya menggenggam erat alat pemotongnya, sebuah Ulu Pakka yang bilah obsidiannya berpadu dengan bongkahan logam dari batu meteorit. Dalam cengkeramannya, ujung yang tajam menggores telapak tangannya. Darah merah pekat menetes.
“Sudahlah Lagos. Mimpimu hanya akan membunuhmu dan keluargamu,” suara Rase’, temannya, menyentakkannya dari lamunan.
Lagos menoleh, dan dalam sekejap, topeng kekonyolannya terpasang. Dia menyeringai lebar. “Justru jika berhasil, namamu akan kuabadikan di perahu pertamaku, Rase’!” balasnya.
Tanpa menunggu jawaban, Lagos bertingkah seolah tak punya beban, mengangkat pikulan rotannya dan berlari kecil. “Ayo, siapa cepat sampai ke bengkel!” serunya, mengubah percakapan tentang takdir menjadi perlombaan kekanak-kanakan menuruni bukit.
Mereka tiba di kawasan para pengrajin. Setelah meletakkan rotan di bengkel ayahnya, Lagos beranjak menuju rumah panggungnya yang berdiri di atas perairan tenang di tepi pemukiman.
Sambil berjalan di atas jembatan kayu, dia mengeluarkan mainannya: perahu kecil dari pelepah sagu. Dia menariknya dengan seutas tali, membuatnya berlayar di atas “lautan” papan kayu. Banyak orang melihatnya dengan senyum maklum akan tingkah konyolnya, namun beberapa dari Kasta Laut memandangnya dengan tatapan sinis. Lagos tak peduli. Di tangannya yang lain, dia menggenggam erat sebuah lipatan daun lontar yang berisi gambar-gambar rahasianya.
Dia tiba di rumahnya dan berlari kecil menuju kamarnya yang berdinding anyaman sagu, tak memperhatikan beberapa tamu penting yang sedang duduk bersama ayahnya. Tiba-tiba, sebuah cengkeraman kuat menarik lengannya.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. Ayahnya, dengan wajah menahan amarah, merenggut perahu mainan dan lipatan lontar dari tangan Lagos. Di depan para tamunya, para pemesan perahu, ayahnya berjalan ke perapian di tengah rumah. Saat hendak melemparkannya, lipatan lontar itu sedikit terbuka, memperlihatkan sekilas gambar rumit sebuah desain cadik ganda yang tak pernah ada sebelumnya.
Lalu, blesss…
Semuanya—simbol kepura-puraan dan simbol mimpi sejatinya—dilalap api. Kertas lontar yang berisi puluhan jam pemikiran rahasianya mengerut menjadi hitam dalam sekejap.
Lagos memegang pipinya yang panas. Dia menatap ayahnya, lalu ke para tamu. Dan refleks yang telah tertanam seumur hidupnya mengambil alih. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memasang ekspresi bingung kekanak-kanakan seolah baru sadar telah mengganggu pertemuan penting. Topeng itu kembali terpasang dengan sempurna. (2-bersambung)
Penulis Novel : Samsudar Syam





