RILIS RAKYAT. ID– Negara Jerman telah di lakukan uji coba bekerja selama 4 Hari saja dalam seminggu.Uji coba ini di evaluasi oleh Universitas Munster, kira- kira apa saja hasilnya?

Bekerja lebih sedikit, merasa lebih baik dan menjadi lebih produktif? Kedengarannya bagus untuk karyawan maupun pengusaha.

Eksperimen dengan empat hari kerja seminggu sudah dimulai di Jerman awal tahun 2024 dan sekarang dievaluasi oleh Universitas Münster.Ada beberapa hasil positif

Di kutip dari dw.com, ada sekitar 45 perusahaan dan organisasi di Jerman mendaftar untuk ikut serta dalam uji coba empat hari kerja seminggu selama enam bulan tanpa mengurangi gaji atau upah. Semuanya diprakarsai oleh konsultan manajemen Intraprenör, bekerja sama dengan organisasi nirlaba 4 Day Week Global (4DWG).

Dari 45 perusahaan, dua perusahaan mengundurkan diri, dan dua perusahaan lain tidak diikutsertakan dalam evaluasi. Dari 41 perusahaan yang tersisa, hanya sekitar sepertiga saja yang benar-benar mengurangi jam kerja satu hari.

Tentu saja, jumlah perusahaan yang berpartisipasi dalam uji coba relatif kecil jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan perusahaan yang ada di Jerman, yaitu sekitar 3,4 juta perusahaan.

Mengapa hanya sedikit perusahaan yang ambil bagian dalam proyek ini?

Marika Platz, salah satu pakar dari Universitas Münster yang mengevaluasi uji coba ini menjelaskan, proyek ini seharusnya diluncurkan di Jerman dua tahun lalu, namun saat itu tidak cukup banyak pengusaha yang bersedia ambil bagian.

Hal ini mungkin disebabkan, antara lain, oleh fakta bahwa tidak seperti di negara lain  bekerja paruh waktu di Jerman sudah umum dilakukan.

Bagai mana kunci paramater
produkttivitasnya ? Bekerja lebih sedikit dengan gaji dan hasil kerja yang sama  logikanya ini hanya bisa dicapai dengan produktivitas yang lebih tinggi.

Apakah peningkatan produktivitas meningkatkan stres karena beban kerja yang lebih tinggi?

Selain melakukan wawancara dengan pekerja, juga diambil sampel rambut untuk dianalisis dan memperoleh informasi tentang tingkat stres.

Selain itu juga diperiksa data fisiologis seperti detak jantung, tingkat aktivitas, dan kualitas tidur untuk menentukan kondisi kebugaran.

Bekerja lebih sedikit, merasa lebih baik dan menjadi lebih produktif? Kedengarannya bagus untuk karyawan maupun pengusaha.

Eksperimen dengan empat hari kerja seminggu sudah dimulai di Jerman awal tahun 2024 dan sekarang dievaluasi oleh Universitas Münster. Ada beberapa hasil positif.

45 perusahaan dan organisasi di Jerman mendaftar untuk ikut serta dalam uji coba empat hari kerja seminggu selama enam bulan  tanpa mengurangi gaji atau upah.

Semuanya diprakarsai oleh konsultan manajemen Intraprenör, bekerja sama dengan organisasi nirlaba 4 Day Week Global (4DWG).

Dari 45 perusahaan, dua perusahaan mengundurkan diri, dan dua perusahaan lain tidak diikutsertakan dalam evaluasi. Dari 41 perusahaan yang tersisa, hanya sekitar sepertiga saja yang benar-benar mengurangi jam kerja satu hari.

Tentu saja, jumlah perusahaan yang berpartisipasi dalam uji coba relatif kecil jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan perusahaan yang ada di Jerman, yaitu sekitar 3,4 juta perusahaan. Mengapa hanya sedikit perusahaan yang ambil bagian dalam proyek ini?

Marika Platz, salah satu pakar dari Universitas Münster yang mengevaluasi uji coba ini menjelaskan, proyek ini seharusnya diluncurkan di Jerman dua tahun lalu, namun saat itu tidak cukup banyak pengusaha yang bersedia ambil bagian.

Hal ini mungkin disebabkan, antara lain, oleh fakta bahwa tidak seperti di negara lain  bekerja paruh waktu di Jerman sudah umum dilakukan.

Kerja empat hari seminggu membuat karyawan lebih senang dan lebih sedikit stress

Hasil analisanya: Karyawan ternyata merasa lebih senang dan lebih baik ketika jam kerja dikurangi. Mereka juga sama produktifnya dengan kerja lima hari seminggu  bahkan dalam beberapa kasus mereka lebih produktif.

“Pada saat yang sama, karyawan melaporkan peningkatan signifikan dalam kesehatan mental dan fisik mereka,” kata Julia Backmann, pemimpin ilmiah uji coba ini.

Para karyawan merasakan lebih sedikit stres dan gejala kelelahan. Hal ini juga ditunjukkan oleh jam tangan pintar yang mengukur menit stres per hari.

Dua dari tiga karyawan mengatakan, ada lebih sedikit gangguan dan proses kerja telah dioptimalkan.

Pada lebih dari separuh perusahaan, pertemuan untuk rapat dirancang berbeda: rapat diadakan lebih jarang dan lebih singkat. Satu dari empat perusahaan juga menggunakan alat digital baru untuk meningkatkan efisiensi.

“Potensi pengurangan jam kerja tampaknya tersembunyi di balik proses yang rumit, rapat, dan sedikit digitalisasi,” kata Carsten Meier dari perusahaan konsultan Intraprenör, yang merangkum hasil studi ini.

Fakta bahwa para karyawan menjadi lebih aktif, diukur dari jumlah langkah dan latihan fisik, juga menghasilkan kesejahteraan yang lebih baik selama masa kerja empat hari seminggu.

Selain itu, mereka rata-rata tidur 38 menit lebih lama per minggu dibandingkan kelompok kontrol yang bekerja normal lima hari.(**)