Rilisrakyat.id — Sosok legendaris yang pernah menggantikan Sunar Sulaiman di skuad Timnas Indonesia, lahir di Barru, Sulawesi Selatan pada 24 April 1924 dan wafat di Makassar pada 26 September 1987. Namanya Andi Ramang, yang dalam catatan resmi FIFA tertulis sebagai Rusli Ramang.

Kehebatannya di lapangan hijau sudah melegenda dan diakui secara internasional. FIFA menempatkannya sebagai salah satu pemain terbaik pada dekade 1950-an. Bahkan pada peringatan 25 tahun wafatnya pada tahun 2012, FIFA secara khusus memberikan penghormatan dengan tema “Pemain yang Menginspirasi”.

Sepanjang karirnya, Andi Ramang tercatat tampil sebanyak 397 kali dan mencetak 316 gol. Artinya rata-rata ia menyumbang gol di hampir setiap pertandingan yang dimainkan. Prestasi itu terasa lebih istimewa jika diingat pada masa itu peraturan permainan belum seketat sekarang, sehingga lawan sering bermain kasar untuk menjegalnya. Meski demikian, Ramang tetap mampu mencetak gol dari posisi dan dengan cara apa pun berkat kecerdasan bermain yang jauh melampaui rata-rata pemain sezamannya.

Lahir dari keluarga kurang mampu, Andi Ramang hanya menamatkan pendidikan Sekolah Dasar. Sejak muda ia membantu orang tua bersepeda sejauh 50 kilometer untuk berdagang ikan. Setelah berumah tangga, ia mengadu nasib ke Makassar membawa istri dan becaknya, lalu berkenalan dengan tokoh sepak bola Andi Matalatta. Karirnya bermula dari tim Persis, sebelum kemudian bergabung dengan Bond Makassar yang kini dikenal sebagai PSM Makassar. Meski sudah menjadi pemain andalan, ia tetap mencari nafkah sebagai tukang becak dan kernet truk.

Selama lebih dari 20 tahun namanya harum di pentas nasional maupun internasional. Namun kisah itu berubah suram pada tahun 1961, ketika ia dituduh menjadi dalang pengaturan skor laga Persebaya lawan PSM. Hukuman larangan bermain seumur hidup dijatuhkan, meski kemudian dicabut setahun berselang, namun ketajaman permainannya tak lagi sama. Ia resmi pensiun pada tahun 1968 saat berusia 40 tahun.

Mencoba beralih menjadi pelatih termasuk di PSM, keterbatasan ijazah membuatnya perlahan tersisih karena tak memiliki sertifikat kepelatihan resmi. Akhir hayatnya pun penuh keprihatinan; ia wafat sepulang melatih saat kehujanan, setelah enam tahun mengidap penyakit paru-paru yang tak terobati karena kekurangan biaya. Ia meninggalkan 19 orang anak cucu di rumah sederhananya.

Kisah ini menjadi catatan pilu sekaligus peringatan: jika pegawai negara dan pejabat berhak menikmati masa tua dengan pensiun layak, mengapa para atlet yang mengukir tinta emas bagi bangsa justru kerap berakhir dalam kesulitan? Semoga perjuangan dan jasa Andi Ramang selalu dikenang, dan kehidupan abadi kelak kembali penuh kemuliaan.

Berikut pernyataan resmi FIFA terkait sosok Andi Ramang:

“Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi sesungguhnya sudah ada sejak tahun 1950-an. Namanya Andi Ramang, berasal dari Indonesia yang pernah membuat kiper terbaik sepanjang masa Lev Yashin jatuh bangun menahan bolanya.”

“Tingginya hanya 156 sentimeter, namun bagi pemain lawan yang bertubuh jauh lebih besar dan kekar, Ramang adalah Si Kurcaci Pembunuh.”

“Ia pemain yang mengejutkan dunia dengan tendangan keras, dribel luar biasa, serta sundulan mematikan. Itulah keistimewaan legenda Timnas Indonesia, Ramang.”

“Kakinya sangat kuat seakan tak bisa dicederai. Lev Yashin menjadi saksi kemampuannya; jika bukan karena ketangkasan sang kiper, Uni Soviet pasti dipermalukan oleh Andi Ramang.”

“Mengenakan nomor punggung 11, ia pernah mencetak 19 gol hanya dalam 5 pertandingan pada turnamen Asia tahun 1953.”

“Bukan hanya Uni Soviet, Jerman Timur pun merasakan ketangguhan Si Macan Asia dan hampir saja menderita kekalahan.”

“Jika ia lahir di era sepak bola modern, tak mustahil ia diperebutkan klub raksasa dunia dan berpeluang meraih penghargaan Ballon d’Or.”

“Kami mengakuinya sebagai salah satu pesepakbola terhebat yang pernah lahir dari Makassar, Indonesia. Semoga suatu saat lahir kembali sosok sejenis Ramang.” (*)