RILIS RAKYAT. ID, Luwu– Perjalanan Panjang yang di lalui Idha Yusuf hingga meraih juara The 8th Karate-Do Gojukai Global Championships di Chiba Port Arena, Jepang.
Di kutip dari media Eksposindo.com, sejak Di usia tujuh tahun, Ildha mengenal karate lewat Dojo Bua Karate Fighter, tempat yang sederhana di Kecamatan Bua.
Bersama teman-teman sebaya, ia dibina oleh Shidoin Annur (Dan 3 Nasional). “Waktu itu dojo bukan sekadar tempat latihan, tapi juga rumah kedua bagi Ildha,” kenang Annur.
Sejak awal, bakatnya terlihat jelas. Ia tak hanya cepat menghafal gerakan, tetapi juga telaten memperbaiki setiap detail teknik. Disiplin dan rasa haus belajar membuatnya cepat naik level.
Perjalanan Ildha semakin serius ketika ia diterima di SMAN Khusus Keberbakatan Olahraga (SMANKO) atau Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar. Di sana, ia berada di bawah bimbingan Sensei Fidelis Lolobua, yang mengasah teknik, mental, dan strategi bertandingnya.
Perpindahan ini bukan tanpa tantangan. Hidup jauh dari keluarga, beradaptasi di kota besar, hingga harus mengatur waktu antara sekolah dan latihan ketat setiap hari adalah ujian tersendiri. Namun, Ildha memilih bertahan. “Kalau mau juara, tidak ada jalan pintas,” ucapnya singkat.
Sejak 2016, Ildha mulai meraih gelar demi gelar di tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Dari kejuaraan antar dojo di Sulselbar hingga turnamen besar seperti Jaksa Agung Cup, Unesa Rector Cup, dan Piala Kementerian Pertahanan, namanya kian dikenal di arena karate Indonesia.
Kemudian Puncaknya terjadi di Jepang.ia meraih emas di kata perorangan putri U-21, emas di kata beregu putri senior, Perak di bunkai kumite putri senior jadi total dia sumbangkan 2 emas & 1 perak.
Kemenangan di Chiba menjadi pembuktian bahwa anak desa dari Luwu bisa mengalahkan atlet terbaik dunia.
Di balik medali emas itu, ada cerita tentang sepatu latihan yang harus dipakai berbulan-bulan hingga solnya tipis, tentang ongkos kejuaraan yang kerap dikumpulkan dari sumbangan dan dukungan teman, hingga momen rindu keluarga yang harus ditahan demi jadwal latihan.
Meski begitu, Ildha tak pernah mengeluh. Justru, kondisi itu menjadi pemicu semangatnya. “Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah,” ujarnya.
Kini, dengan sabuk hitam Dan 1 Nasional di pinggang, Ildha ingin prestasinya menjadi alasan pemerintah daerah memberi perhatian lebih pada atlet Luwu. Ia juga berharap bisa mendapatkan beasiswa kuliah hingga selesai, agar tetap fokus mengharumkan nama Indonesia di level dunia.
Pelatih Annur berharap kisah Ildha menjadi inspirasi bagi generasi muda Luwu. “Dia adalah bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari desa kecil, asalkan ada kemauan dan kerja keras,” katanya.
Bagi Ildha, podium dunia bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Targetnya kini adalah mempertahankan prestasi di kejuaraan internasional berikutnya dan menginspirasi lebih banyak anak Indonesia untuk percaya pada mimpinya.
“Karate mengajarkan saya disiplin, hormat, dan pantang menyerah. Selama masih ada napas, saya akan terus bertarung,” tutupnya.(*)







