Rilisrakyat.id– Ketika Prof. B.J. Habibie dan Jusuf Kalla tampil sebagai tokoh nasional, banyak orang melihatnya sebagai keberhasilan dua individu yang memiliki kapasitas luar biasa. Pandangan itu tidak sepenuhnya keliru. Namun, jika ditelaah lebih dalam, keduanya sesungguhnya merupakan produk dari sebuah ekosistem sosial, budaya, pendidikan, dan kepemimpinan yang tumbuh di Sulawesi Selatan.

Pertanyaan yang relevan hari ini bukanlah siapa yang akan menjadi “Habibie baru” atau “Jusuf Kalla berikutnya”. Sejarah tidak pernah bekerja dengan cara menduplikasi tokoh. Setiap zaman melahirkan pemimpinnya sendiri dengan tantangan yang berbeda.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah Sulawesi Selatan masih memiliki ekosistem yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin nasional secara berkelanjutan? Inilah tantangan terbesar yang sesungguhnya.

Selama ini, diskusi mengenai kepemimpinan nasional terlalu sering terjebak pada pencarian figur. Ketika seorang tokoh pensiun dari panggung nasional, perhatian publik segera beralih kepada pertanyaan tentang siapa penggantinya. Cara berpikir seperti ini menjadikan kepemimpinan bergantung pada individu, bukan pada sistem yang menyiapkan regenerasi.

Padahal sejarah bangsa-bangsa besar menunjukkan bahwa keberlanjutan kepemimpinan tidak dibangun melalui kultus individu, melainkan melalui institusi yang mampu menemukan, membina, dan mematangkan talenta dari generasi ke generasi.

Sulawesi Selatan sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar untuk membangun sistem seperti itu. Nilai lempu’ (jujur), getteng (teguh), siri’ (harga diri), sipakatau (saling menghargai), sipakalebbi (saling memuliakan), dan sipakainge (saling mengingatkan) membentuk fondasi etika kepemimpinan yang kuat. Tradisi merantau melatih daya tahan, kemampuan beradaptasi, dan keberanian menghadapi tantangan. Perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, serta diaspora Sulawesi Selatan juga merupakan modal sosial yang tidak kecil.

Ironisnya, berbagai kekuatan tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam sebuah ekosistem kepemimpinan yang terintegrasi. Masing-masing berkembang dengan baik, tetapi belum selalu bergerak dalam visi yang sama, yakni menyiapkan pemimpin nasional masa depan.

Dalam pemahaman inilah pergantian kepemimpinan di berbagai institusi strategis perlu dibaca sebagai momentum yang lebih besar daripada sekadar pergantian jabatan.

Terpilihnya Ilham Arief Sirajuddin sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, misalnya, dapat dimaknai sebagai salah satu peluang untuk memperkuat ekosistem tersebut. Makna strategisnya tidak terletak pada siapa yang memimpin, melainkan pada sejauh mana organisasi politik mampu menjalankan fungsi kaderisasi, pendidikan politik, pengembangan kepemimpinan, dan ruang dialog lintas sektor.

Partai politik yang kuat tidak hanya diukur dari kemampuan memenangkan pemilu. Ia juga diukur dari kemampuannya melahirkan pemimpin yang memiliki integritas, kapasitas, dan visi kebangsaan.

Di sinilah konsep The South Sulawesi Leadership Civilization menjadi relevan. Gagasan ini berangkat dari keyakinan bahwa kepemimpinan adalah hasil dari sebuah peradaban, bukan semata-mata produk kompetisi politik. Peradaban kepemimpinan dibangun ketika budaya, pendidikan, organisasi, dunia usaha, birokrasi, media, organisasi keagamaan, dan masyarakat sipil saling terhubung dalam proses panjang pembentukan talenta.

Dengan perspektif tersebut, keberhasilan seorang pemimpin tidak lagi hanya diukur dari prestasi pribadinya, tetapi juga dari jumlah pemimpin baru yang berhasil ia lahirkan, kualitas institusi yang ia tinggalkan, dan budaya kolaborasi yang ia bangun. Sepertinya, Ilham Arief Sirajuddin memiliki modal itu.

Indonesia menuju satu abad kemerdekaan pada 2045 membutuhkan lebih banyak daerah yang mampu menjadi pusat pengembangan kepemimpinan nasional. Sulawesi Selatan memiliki modal sejarah, modal budaya, dan modal sosial untuk memainkan peran tersebut. Yang dibutuhkan bukan sekadar tokoh baru, melainkan keberanian membangun sistem yang memungkinkan tokoh-tokoh baru terus lahir.

Jika momentum-momentum kepemimpinan hari ini mampu diarahkan pada penguatan institusi, kaderisasi berbasis keunggulan (merit), dan kolaborasi lintas sektor, maka Sulawesi Selatan tidak hanya akan kembali melahirkan figur-figur nasional. Lebih dari itu, Sulawesi Selatan akan membangun sebuah peradaban kepemimpinan yang memberi manfaat bagi Indonesia.

Pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sesekali melahirkan pemimpin besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membangun sistem yang tidak pernah berhenti melahirkan pemimpin-pemimpin besar.